Tim Falakiyah Kanwil Kementerian Agama Provinsi Aceh merilis hasil pengamatan hilal bulan Shafar 1444 H yang dilakukan pada Sabtu, (27/8/2022). Dalam pengamatan yang berlangsung di Observatorium Tgk Chik Kuta Karang, Lhoknga tersebut, hingga bulan terbenam sepenuhnya pada pukul 18:59 WIB, hilal penentu awal bulan Shafar tersebut tidak terlihat.

Kepala Observatorium, Alfirdaus Putra mengatakan hilal Rajab pada Sabtu, 27 Agustus 2022 berada di bawah kriteria imkanur rukyat, sehingga sangat sulit untuk diamati.

“Berdasarkan data hisab, bulan mengalami konjungsi pada pukul 15:16 WIB. Sehingga saat matahari terbenam, bulan masih berada terlalu dekat dengan matahari dan tidak dapat dirukyat dengan mata telanjang.”

“Pada kriteria imkanur rukyat yang terbaru, tinggi minimal hilal yang ditetapkan oleh Menteri-menteri Agama Brunai Darussalam, Indonesia, Malaysia dan Singapura (MABIMS) sebesar 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat. Sedangkan pada hari ini di tempat kita hilalnya baru 2 derajat dan elongasinya 4 derajat.” Terang Alfirdaus.

Selain itu, keadaan ufuk yang berawan dan hujan juga menghambat tim dalam melakukan pemantauan.

Dalam pengamatan hilal Shafar 1444 H, Aceh merupakan wilayah dengan ketinggian hilal paling tinggi dari wilayah lain di Indonesia. Berdasarkan laporan tim dari wilayah lain, tidak satupun yang melaporkan berhasil mengamati hilal Shafar pada sore Sabtu tersebut.

“Oleh karena itu, bulan Muharram tahun 1444H ini diakhiri dengan istikmal atau menggenapkan bilangan bulan Muharram menjadi 30 hari. Sehingga awal bulan Shafar dimulai pada magrib Minggu.” Sebutnya.