Dinas Dayah Kota Banda Aceh  menggelar pelatihan ilmu falak bagi teungku dari berbagai dayah di Kota Banda Aceh selama dua hari pada 8 dan 9 Juni 2022.

Kegiatan yang berlangsung di Hotel Mekkah dan Observatorium Tgk Chik Kuta Karang Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Aceh ini memfokuskan pada sosialisasi dan bimbingan pengukuran arah kiblat.

Kepala Dinas Dayah Kota Banda Aceh, Muhammad, S.Sos, MM, mengatakan praktek pelatihan ilmu falak penting dilaksanakan, karena ia menilai selama ini penentuan hari-hari besar Islam seperti penentuan 1 Ramadhan dan penentuan hari raya serta penetapan arah kiblat sering mengalami perdebatan di tengah masyarakat.

Dengan adanya praktek langsung ilmu falak, menentukan arah kiblat, serta penentuan hilal ini para peserta diharapkan mendapatkan ilmu falak, dan dapat menerapkan di lingkungannya dan menjelaskan kepada masyarakat.

“Ke depan para peserta yang mengikuti kegiatan pada hari ini kita harapkan dapat menerapkan ilmu yang didapatkan dan disampaikan oleh narasumber tentang ilmu falak tentang bagaimana menentukan arah kiblat. Saya berharap ke depan para peserta ini mampu menjelaskan kepada masyarakat jika sewaktu-waktu terjadi polemik terkait kiblat di daerahnya masing-masing.” Ujar Kadis Dayah Kota Banda Aceh.

Sementara itu  Kepala Tim Falakiyah Kanwil Kemenag Aceh, Alfirdaus Putra, menjelaskan kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari permintaan audiensi kepala Dinas Pendidikan Dayah Aceh terkait penguatan penguasaan ilmu falak bagi kalangan teungku dayah.

“Alhamdulillah kami menyambut baik inisiatif Kadis Dayah Kota Banda Aceh yang menggelar kegiatan edukasi ilmu falak ini bagi teungku dayah. Hal ini memberikan pesan yang jelas kepada semua pihak bahwa ilmu falak itu penting, karena menyangkut dengan ibadah mahdhah kita sehari-hari seperti ibadah shalat dan puasa ramadhan.” terang Alfirdaus.

Dalam kegiatan yang berlangsung di observatorium Tgk Chik Kuta Karang Lhoknga, para peserta dibekali pengetahuan cara menentukan arah kiblat dengan berbagai metode. Mulai yang praktis dengan memanfaatkan bayangan dari gerak semu matahari, menggunakan peralatan falak sederhana, hingga menggunakan peralatan falakiyah modern seperti theodolite.

Alfirdaus menambahkan, penguatan ilmu falak di dayah harus terus dikembangkan dan ilmu ini harus dilestarikan, meski sudah ada berbagai macam aplikasi untuk menentukan arah kiblat.

“Hal ini terkait dengan kelestarian ilmu dan juga tingkat akurasi. Perlu kita ketahui bahwa akurasi arah kiblat dengan menggunakan kompas di handphone itu lemah, karena sangat tergantung dengan hardware bawaan hp tersebut. Untuk akurasi yang lebih tinggi, kita memerlukan metode ilmiah dengan memanfaatkan bayangan matahari, posisi matahari, atau lainnya yang menggunakan pendekatan saintifik.” Lanjutnya.

Ia turut melakukan praktik pengukuran arah kiblat dengan menggunakan beberapa handphone peserta sekaligus di hadapan para peserta. Hasilnya setiap handphone menunjukkan arah yang berbeda beberapa derajat dari arah kiblat yang seharusnya.

“Untuk penggunaan pribadi di rumah, mengukur kiblat dengan hp boleh-boleh saja. Karena itu ikhtiar paling mudah yang dapat kita lakukan untuk kesempurnaan ibadah. Akan tetapi untuk tempat publik, sebaiknya diukur dengan metode yang lebih akurat.” Ujarnya.

Praktik menggunakan theodolite berlangsung di bawah terik matahari yang menyengat. Akan tetapi antusiasme peserta yang tinggi membuat pelatihan berlangsung baik hingga selesai. Peserta terus menerus mengajukan pertanyaan tatkala ada langkah-langkah pengukuran yang tidak dimengerti.

“Program ini sangat baik dan bermanfaat. Kami sangat siap jika ke depan Dinas Dayah Kota Banda Aceh maupun instansi atau lembaga lainnya turut ingin belajar kembali Bersama kami di observatorium Tgk Chik Kuta Karang.” Pungkasnya.